Thursday, December 25, 2014

Normal atau....

Tulisan ini juga sebenarnya udah lama mau saya post, tapi moodnya gak dateng-dateng.
Lagi-lagi salahin mood. :))

Tapi nasib tulisan ini nggak sengenes postingan saya sebelumnya. Tulisan ini hanya sebatas ide yang masih menari-nari di kepala saya. Belum sempat tertuang dalam bentuk postingan seperti ini. Nah post ini sebenarnya pengen saya tulis pas di hari ibu kemarin tanggal 22 desember, tapi seperti yang udah saya ceritain di post sebelumnya, hari senin mood saya jelek banget gara-gara tulisan saya yang ilang tiba-tiba sebelum disave. Jadilah tulisan ini pun ikut terpending. :))

Kemudian kebetulan, entah senin atau selasa kemarin timeline twitter rame ngebahas soal lahiran normal atau operasi caesar. Pas banget, emang tema ini yang mau aku bahas dari kemarin itu. Karena momennya pun pas aku juga lagi hamil tua, udah masuk trimester ketiga yang artinya sebentar lagi launching, insyaa Allaah.
(((((LAUNCHING)))))

Walaupun hari ibu udah lewat beberapa hari yang lalu, tapi gak papalah, belom basi-basi banget, masih bulan desember dan lagi kayaknya konten postingan ini juga sebenernya bisa diposting kapan aja. Saya aja yang hobinya ngepas-ngepasin momen. :D

Jadi, masih ada di sini yang bilang kalo ibu yang melahirkan anaknya melalui proses non normal alias caesar itu gak menjadi ibu seutuhnya?

Guys, think again!

Kata-kata itu gak pantes keluar dari lisan seorang perempuan yang belum pernah merasakan hamil, berjuang antara hidup dan mati melahirkan seorang anak ke dunia ini, menyusui, merawat dan membesarkan anak tersebut. Pun lebih tak pantas lagi keluar dari lisan seorang ibu yang katakanlah ia beruntung bisa dengan lancarnya melahirkan anaknya secara normal. Karena ia pasti tau bagaimana rasanya membawa calon manusia selama 9 bulan dalam rahimnya sama seperti wanita yang melahirkan secara caesar. Mereka sama-sama seorang ibu. Setelah mengandung, melahirkan, menyusui, merawat dan membesarkan, tak logis jika wanita yang melahirkan secara caesar tak dianggap utuh sebagai seorang ibu. Dari semua peran seorang wanita dalam prosesnya menjadi seorang ibu yang mereka jalani itu, yang membedakan hanya pada proses persaliannya saja. Tentu tak masuk akal jika seorang ibu menganggap ibu lainnya belumlah lengkap menjadi seorang ibu "hanya" karena ia tak melahirkan dengan proses yang normal.

Terlebih lagi kata-kata itu sangat-sangat tidak pantas keluar dari lisan seorang pria, entah dia sudah menikah atau belum, sudah menjadi Ayah atau belum, karena lelaki selamanya tak akan merasakan bagaimana beratnya perjuangan seorang wanita menjadi ibu.

Intinya, tak seorangpun pantas menjudge seorang wanita yang melahirkan tidak dengan proses persalinan normal itu belum menjadi ibu yang seutuhnya.

Saya sendiri memang masih menjadi calon ibu. Saya belumlah pernah merasakan bagaimana rasanya melahirkan. Jika ditanya saya memilih normal atau caesar, tentu saya ingin sekali bisa melahirkan secara normal. Namun, saya menyerahkan semua keputusan tersebut kepada Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang terpenting saya dan bayi saya sehat dan selamat.

Saya mengusahakan dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk bisa bersalin normal nanti. Namun saya juga tak mau jadi wanita yang antipati terhadap proses persalinan secara operasi. Saya pun akan mempersiapkan mental saya jika nantinya dihadapkan pada suatu keadaan harus melahirkan bayi saya lewat jalan operasi. Walaupun saya terus berdoa agar kehamilan saya ini diberikan kesehatan dan kelancaran serta nantinya diberikan kemudahan dalam proses persalinan yang normal.

Inti dari tulisan saya ini, saya sangat tidak setuju jika perempuan yang melahirkan tidak melalui proses normal dianggap tidak menjadi ibu seutuhnya.

Tidakkah diperhitungkan masa mengandungnya selama 9 bulan membawa jabang bayi dalam rahimnya dengan segala suka dukanya?

Tidakkah diperhitungkan proses pemulihan ia pasca operasi yang kebanyakan justru lebih lama dan akhirnya lebih menyakitkan dibanding proses persalinan normal?

Tidakkah diperhitungkan masa ia menyusui, di mana ia pun sama seperti ibu lain yang melahirkan secara normal, yang harus selalu menjaga asupan makanannya dan juga suasana hatinya agar selalu senang supaya ASInya bisa mengalir deras dan mencukupi kebutuhan bayinya?

Tidakkah diperhitungkan tangis dan air matanya serta malam-malam panjang yang ia lewatkan tanpa tidur karena harus menemani bayinya yang memaksanya untuk terjaga, terlebih jika anaknya itu sakit dan menjadi rewel?

Tidakkah diperhitungkan segala tenaga dan waktunya untuk menjaga, merawat, dan membesarkan dan mendidik anaknya hingga dewasa nanti?

Tidakkah itu semua cukup menjadi alasan bahwa mereka yang melahirkan secara caesar sungguhlah telah menjadi ibu yang utuh dan sempurna bagi anak mereka?

Karena sesungguhnya, proses persalinan adalah sebuah perjuangan antara hidup dan matinya seorang wanita, terlepas apakah bersalin normal atau tidak.

Saya memiliki dua orang kakak yang masing-masing telah memiliki anak. Keduanya melahirkan dengan proses yang berbeda, di mana kakak kedua saya melahirkan anaknya dengan jalan operasi. Kakak kedua saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya pada masa kehamilannya untuk bisa melahirkan normal, namun takdir berkata lain. Karena satu dan lain hal, keponakan saya harus dilahirkan secara caesar. Namun apakah saya melihat ada yang kurang dari diri kakak saya sebagai seorang ibu setelah ia melahirkan secara caesar? Tidak, sama sekali tidak. Ia adalah ibu yang sempurna untuk anaknya, dan di mata saya keputusan untuk menjalani operasi tersebut justru semakin menampakkan besarnya cinta seorang ibu kepada anaknya.

Sedangkan kakak pertama saya alhamdulillaah melahirkan anaknya dengan proses persalinan normal dan lancar. Dari pengalaman kedua kakak saya ini, sayapun jadi punya gambaran mengenai kedua proses persalinan ini, dan saya pun berusaha sebaik-baiknya mempersiapkan segala sesuatunya secara fisik dan mental untuk menghadapi keduanya nanti.

Lalu apakah tulisan ini saya buat karena membela kakak saya yang melahirkan secara caesar? Tentu tidak. Saya membela seluruh wanita yang dianggap tidak menjadi ibu seutuhnya hanya karena tidak bisa melahirkan secara normal. Karena bagi saya semua ibu itu utuh dan sempurna, tak peduli dengan cara apa dia menghantarkan kehidupan seorang manusia ke muka bumi ini. :')

With love,

Tassya.

2 comments:

  1. Nice blog sya....keep writing ya bumil kece😘

    ReplyDelete
  2. Selamat siang saudara tasya, saya ijon copas tulisan anda, saya mengalami kasus yg sama, ada beberapa orang terdekat mengganggap saya bukan wanita seutuhnya karena dua kali sc, saya ijin menunjukkan tulisan anda kepada mereka, semoga mereka bisa memahami, terima kasih banyak. Naila

    ReplyDelete